Bangkalan, exsposeindonesia.co.id – Inovasi hexa reef yang ditanam di perairan Pantai Pasir Putih Tlangoh tidak hanya berfungsi sebagai pelindung pantai dari abrasi, tetapi juga memicu perubahan sosial dan ekonomi masyarakat pesisir.
Hexa reef merupakan terumbu buatan berbentuk heksagonal yang dirancang untuk menahan laju arus bawah laut.
Berbeda dari pemecah ombak konvensional, struktur ini bekerja dari dasar laut sehingga lebih efektif menjaga sedimentasi pantai.
Sejak pertama kali ditanam pada 2023, sebanyak 390 ton hexa reef telah terpasang dan hingga kini seluruh struktur masih dalam kondisi utuh tanpa retak atau pecah.
Dari sisi ekologi, hexa reef berkembang menjadi habitat baru bagi biota laut. Teridentifikasi 20 spesies ikan karang yang terdiri atas 13 spesies ikan major dan tujuh spesies ikan target dengan kelimpahan masing-masing sebesar 72,897 persen dan 27,103 persen.
Selain ikan, permukaan hexa reef juga telah ditumbuhi terumbu karang alami. Karang lembaran mendominasi dengan persen tutupan 10,44 persen, disusul karang massif sebesar 7,87 persen. Keindahan bawah laut ini mulai menarik minat wisatawan.
Dampaknya terasa hingga daratan. Nelayan kini tidak perlu melaut jauh untuk mendapatkan ikan, sementara sektor wisata membuka peluang usaha baru bagi warga.
Kepala Desa Tlangoh, Kudrotul Hidayat, berperan penting dalam memperkuat keberlanjutan program dengan membangun kesadaran masyarakat melalui pembentukan Pokdarwis.
“Berkat adanya hexa reef, rantai nilai program tercipta dengan adanya kerjasama yang dikembangkan, antara pokdarwis yang mengelola kawasan wisata dengan kelompok nelayan dan pelaku usaha mikro kecil menengah,” katanya.
Transformasi Pantai Tlangoh menjadi destinasi wisata menandai evolusi sosial desa pesisir yang dulunya terpinggirkan, kini bangkit berkat inovasi berbasis lingkungan.

Komentar